Ciptapangan
Ciptapangan





Sementara, bisnis ayam CPIN masih yummy
posted by admin on 15/04/16

JAKARTA. Meski tidak sampai merugi, performa PT Charoen Popkhand Indonesia Tbk (CPIN) sempat tertekan pada tahun lalu. Tapi perlahan, kinerja keuangan CPIN mulai membaik hingga tutup tahun.

Kondisi ini yang memicu harga saham CPIN secara year to date naik sekitar 34%. Lonjakan harga ini jauh melampaui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sepanjang tahun lalu, CPIN mencatat kenaikan pendapatan 3,28% menjadi Rp 30,1 triliun.

Laba bersih emiten pakan ternak dan budidaya ayam ini naik sekitar 6% menjadi Rp 1,84 triliun. "Ini hasil kinerja khusus periode kuartal IV tahun lalu," ujar analis Phillip Securities Muhamad Farhan belum lama ini.

Kuartal keempat menopang kinerja CPIN sepanjang tahun lalu. Pada periode tersebut, CPIN mencatat kenaikan penjualan bersih 4,54% secara kuartalan dan kenaikan laba kotor 4,13%.

Laba bersih melompat dari Rp 175,48 miliar menjadi Rp 586,7 miliar. Pencapaian tersebut tak lepas dari beberapa hal. Pertama, harga bahan baku bisnis perseroan menurun antara 8% hingga 18%.

Rendahnya harga komoditas bahan baku mengurangi beban pokok penjualan, sehingga laba bersih lebih positif. Kedua, program pemusnahan dua juta ayam indukan cukup mengerek harga ayam daily old chicken (DOC).

Sayang, program ini dihentikan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) lantaran dinilai mengganggu pembentukan harga ayam hidup di pasaran. CPIN memang masih prospektif. Apalagi jika didekatkan sentimen kondisi daya beli masyarakat yang lebih baik tahun ini.

Tapi, para investor juga tidak boleh gegabah masuk ke saham CPIN. "Soalnya, kenaikan harga saham 30% mencerminkan, semua prospek positif CPIN sudah ter-priced in," tulis analis UOB Kay Hian Securities Franky Kumendong dalam riset 4 April lalu.

CPIN juga masih memiliki potensi paparan risiko, seperti nilai tukar rupiah. Risiko ini menjadi salah satu faktor utama penekan kinerja.

Depresiasi rupiah sebesar 11% membuat CPIN mencatat rugi kurs Rp 587 miliar tahun lalu. Penundaan program pemusnahan ayam indukan juga bakal berefek dan hal ini masih ditambah lagi oleh volatilitas harga bahan baku.

"Tambahan cost pada lini bisnis barunya, beverages, juga menjadi key risk bagi CPIN," tambah Franky.

Analis Ciptadana Securities Zabrina Raissa dalam riset awal April lalu menjelaskan, dia tetap yakin, jika program pemusnahan ayam indukan masih akan dilanjutkan, setidaknya hingga akhir tahun 2016.

Pemerintah tengah menyiapkan dasar yang legal untuk melanjutkan program tersebut. Cara ini memang terbilang vital bagi industri poultry. Dengan pemusnahan, suplai DOC berkurang, sehingga harga di pasar naik.

Semenjak program ini dieksekusi, rerata harga jual atau average selling price (ASP) DOC naik sekitar 19,4% menjadi Rp 4.500. Kenaikan ASP ini berkontribusi terhadap kenaikan penjualan DOC CPIN sebesar 20% tahun lalu dari Rp 3,2 triliun.

Sentimen ini juga yang mendasari Zabrina merekomendasikan buy CPIN dengan target harga Rp 3.900 per saham. Farhan dan Franky merekomendasikan hold dengan target masing-masing Rp 3.680 dan Rp 3.650 per saham.

Sumber : Harian Kontan, Jumat tgl 15 April 2016


Previous News     |      Next News

Related News


Current Rating: 2.667 (3 users)

Rate this news:



SIGN IN ACCOUNT
Email / NIK:
Password:
 Remember my login ID
Forgot Your Password?
ONLINE POLLING
MOST VISITED
MOST RATED